Langsung ke konten utama

Candu

Ada di suatu pagi yang menggigil

Kita disapu oleh embun yang menyamudera

Hilang arah oleh suatu candu

yang merusak alam pikir


Pagi dimana kita tak memikirkan apapun

Tak peduli sahutan ayam 

Maupun derap ibu-ibu yang kan belanja

Hanya aku dan kamu, kulit kita saling berbicara


Kupetik ranum bibirmu 

Merasa segala incinya

Berpegangan

Meraba setiap incinya


Kita bergetar seperti suatu frekuensi

Terombang ambing di jalan yang kita nikmati

Rusak nalar, tak perlu dikejar

Cukup saling berbisik hingga fajar 


13/01/2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meningkatkan Kecepatan Modem

Alhamdulillah hari ini saya mulai ngeblog lagi. Sebelumnya sih udah pernah, tapi terbengkalai gitu aja, hehehe. Buat postingan pertama enaknya apa ya?Hmm saya bahas masalah modem aja deh, masalah klasik dan umum sih tapi gapapa lah ya. Kalian yang pake modem Dial-up (modem yang bentuknya kaya flashdisk itu lho) pasti sering banget ngalamin koneksi yang luar biasa lemot, apalagi dengan paket murah yang biasanya cuma gocap sebulan kaya yg saya pake, hehe. Jaringan atau bandwidth lemah kaya gitu pasti membuat kita sebel apalagi dalam keadaan genting misalnya kita mau upload tugas online dari dosen. Pasti pusing lah ya ngadepin keadaan kaya gitu. Oke, disini saya mau share sedikit pengalaman yang pernah saya alamin buat ngatasin LeKon (Lelet Koneksi). Untuk mengatasi jaringan yang lemot kita bisa pake software atau hardware. Untuk software biasanya adalah software yang menjaga supaya koneksi tetap aktif tidak idle (modem tidur). Salah satu software oke yang pernah saya pake adalah con...

Bisuku Menulikanmu

Bisuku menulikanmu. Pada bayang sembarang di bidang sembarang. Yang kudengar cahaya, kecapku suara. Kau membisukanku. Kukatakan aku cinta. Yang terdengar hahuhiha. Lalu kau menempelengku. Kumaki. Kau malah memeluk. Sebegitunyakah?. Banyak yang bertanya, kenapa tak kami pakai isyarat?. Mudah saja jawabnya, karna kami tak bisa. Aku nikmati interaksi mematikan ini. Kala yang tersampaikan lebih mirip seperti angin ribut. Padahal itu lagu rindu. Bisuku menulikanmu. Pada ruang yang hampa di angkasa gulita. Kedip matamulah udara. Berhembus dengan kecepatan cahaya merobek paru-paruku. Yang kuhirup kedipmu, dengarku aroma. Antah berantah kita. Jauh dari bumi tempat kita bersua. Jauh dari lautan tempat kita saling merindu. Tempat dimana yang bisa kukatakan hanya sepi dan yang kau dengar adalah sunyi. Tempat dimana yang kulihat hanya hamparan luas tak berwarna. Entah, gelap atau terang. Aku bilang aku rindu. Kau malah menyalak “Salahku apa?Kenapa kau ingin membunuhku?”. Aku hanya bisa tersenyum p...