Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Niyar

Kau terangi Namun membutakan Kau hangatkan Aku terbakar Kau mencipta cahaya Hatimu berpendar menyilaukan Kenapa menggelapkan Kau tau seharusnya Lilinku kupadam Sinarku kuredam Bukan untukku Gelap masihlah teman Tetaplah benderang, cahaya Disana Dimana seharusnya kau terang Maafkan aku Maafkan dia Kami amatlah naif Abadilah cahaya Kaulah cinta Yang menciptaku dan dia Meski dari airmata Dear, cahaya Ingatkan dia agar tak lupa bersinar Ingatkan dia tuk tetap berjuang Karna aku tak bisa Membelah keras kepalanya 11 Jan 2015 on facebook My biggest sin. My worst regret.

Tuna Segala

Ramai sekali Tetes air dari dedaun gemericik Seperti malam ini tak malam   Semua lelap Semua senyap Tapi alam tak tidur Ada saja hewan malam yang berisik Atau mungkin tidak Hanya karena ada rongga yang sepi Didalam sini   Sepi itu indah meski tidak Seperti ketidakpastian segala Bermakna ganda Bertafsir juta   Aku bisa saja berteriak Tuk yakinkan malam itu berisik Tapi belum tentu teriakku berarti berisik Mungkin justru sangat senyap   Entah mengapa kanan berarti kanan Bahasa hanya ungkapan Rindupun begitu Rasanya hanya hati yang tau arti Kata hanya sedikit gambaran Atau mungkin bukan Karena katanya gambar bermakna jutaan kata Tapi apa sejuta gambar cukup tuk wakili rindu? Entah Padahal hanya satu kata Kita hanya makhluk ambigu Prinsip kadang hanya ego Atau ego itulah prinsip Sama Atau mungkin juga beda   Kita multi indera Atau justru Tuna segala 02 Maret 2015 di facebook

Bisuku Menulikanmu

Bisuku menulikanmu. Pada bayang sembarang di bidang sembarang. Yang kudengar cahaya, kecapku suara. Kau membisukanku. Kukatakan aku cinta. Yang terdengar hahuhiha. Lalu kau menempelengku. Kumaki. Kau malah memeluk. Sebegitunyakah?. Banyak yang bertanya, kenapa tak kami pakai isyarat?. Mudah saja jawabnya, karna kami tak bisa. Aku nikmati interaksi mematikan ini. Kala yang tersampaikan lebih mirip seperti angin ribut. Padahal itu lagu rindu. Bisuku menulikanmu. Pada ruang yang hampa di angkasa gulita. Kedip matamulah udara. Berhembus dengan kecepatan cahaya merobek paru-paruku. Yang kuhirup kedipmu, dengarku aroma. Antah berantah kita. Jauh dari bumi tempat kita bersua. Jauh dari lautan tempat kita saling merindu. Tempat dimana yang bisa kukatakan hanya sepi dan yang kau dengar adalah sunyi. Tempat dimana yang kulihat hanya hamparan luas tak berwarna. Entah, gelap atau terang. Aku bilang aku rindu. Kau malah menyalak “Salahku apa?Kenapa kau ingin membunuhku?”. Aku hanya bisa tersenyum p...